Sheba | pionir dan pelopor jas hujan muslimah cantik sheba, jas hujan sheba, jas hujan muslimah sheba
pionir dan pelopor jas hujan muslimah cantik sheba, jas hujan sheba, jas hujan muslimah sheba
pionir dan pelopor jas hujan muslimah cantik sheba, jas hujan sheba, jas hujan muslimah sheba
22446
post-template-default,single,single-post,postid-22446,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

3 MACAM MENTALITAS ORANG TERHADAP UANG

3 MACAM MENTALITAS ORANG TERHADAP UANG

Oleh: Prio Agung Wicaksono, SEI (CEO Sheba – Jas Hujan Muslimah Cantik Pertama)

Bismillah, assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuhu.
Apa kabar rekan-rekan semua, semoga dalam keberkahan, aamiin

Puji syukur atas nikmat dari Alloh yang tiada henti, semoga kita termasuk orang yang senantiasa pandai bersyukur. In syaa Alloh. Jazakumulloh atas kesempatan yang diberikan, semoga sesi sharing kali ini Alloh ridhoi. Sharing kali ini tentang uang. Siapa yang tidak senang membahas uang? Tentu semua senang. Apa lagi uangnya uang yang halal dan berkah, tentu makin sumringah. Iya apa iya?

Ada 3 MACAM MENTALITAS ORANG TERHADAP UANG.

Materi yang disampaikan di Forum Rintis Bisnis ini, saya ambil dari sebuah buku berjudul 9 Pertanyaan Fundamental: Strategi Membangun Kekayaan tanpa Riba yang ditulis oleh Ir. Heppy Trenggono, M.Kom. Mari kita bahas satu persatu dari kaca mata bisnis dan bagaimana orang sukses memperlakukan uangnya.

Pertama. Mentalitas Miskin, golongan pertama adalah orang dengan mentalitas miskin. Begitu memperoleh penghasilan, prioritas pertama dan utama adalah segera menghabiskannya! Ajaibnya, dia bahkan lihai menghabiskan penghasilan yang belum ada ditangannya. Orang bermental miskin selalu ingin merasakan pengalaman memiliki sesuatu. Dalam kurun waktu yang lama, dia harus membantin harap, ‘andai aku bisa beli itu…’

Begitu ada yang lebih, mereka bergegas memuaskan keinginannya itu. Orang dengan mentalitas miskin tak pernah peduli dengan jumlah yang harus dibayar. Dia hanya menghitung, apakah penghasilannya cukup untuk membayar cicilannya atau tidak. Di Jawa Timur, ada istilah Bank Thithil, di Jawa Tengah ada istilah Bank Thengel atau Bank Plecit. Nasabah mereka adalah orang-orang miskin dengan mentalitas miskin.

Perhitungannya begini:

Dari uang yang diajukan Rp.100.000 “nasabah” menerima tunai Rp.90.000. biaya administrasi Rp.10.000 langsung dipotong oleh “bank”. Cicilan harus dibayar adalah Rp.4000 setiap hari selama 30 hari. Berapa totalnya? Peminjaman harus membayar Rp.120.000 dari utang yang sebenarnya hanya Rp.90.000. Sahabat bisa hitung, berapa bunganya? 30% per bulan. Tinggi Sekali! Dan jelas ini adalah riba.

Tentu kita faham, berapa besarnya dosa riba. Belum ada tanda-tanda “bank-bank” yang terang-terangan memakai system riba itu bakal hilang ditengah masyarakat. Kehadiran mereka disisi lain dinantikan, walau disertai keluhan.

Lantas, apakah orang miskin saja punya mentalitas miskin?

Ternyata tidak. Banyak orang yang berpenghasilan besar menjadi miskin karena memiliki mentalitas miskin. Mereka jatuh miskin karena tidak mau berhitung dengan biaya yang harus ditanggung untuk setiap keputusannya. Mereka berani bermain di wilayah berbahaya, dan akhirnya menggadaikan hidupnya kepada riba.

SPENDING adalah factor utama orang bermental miskin. Dia selalu ingin membeli sesuatu, memiliki sesuatu, atau melakukan sesuatu. Sayangnya, dia melakukannya tanpa pernah menghitung apakah dia memiliki uangnya ataukah tidak.

Toh setiap kali saya kekurangan uang, saya masih bisa ngutang, begitu pola pikirnya. Kalaupun hidupnya dan hidup keluarganya harus tergadai demi keputusannya, itu urusan belakangan. Dia bukan tidak tahu. Sepanjang sejarah, terlalu banyak contoh kasat mata berlalu dihadapannya.

Orang dengan bermental miskin tidak pernah terlepas dari utang. Bahkan sebelum utangnya yang satu selesai, dia selalu berhasrat untuk berutang lagi. Utang itu bukan sama sekali untuk investasi, tapi untuk membiayai hidupnya.

Orang dengan mentalitas miskin ini tidak akan pernah menjadi orang kaya. Dan tetap miskin hingga akhir hayatnya. Misalnya, suatu saat dia memperoleh warisan. Rekeningnya mendadak gemuk oleh rupiah, Anda bisa tebak, apa yang pertama kali dia lakukan? SPENDING.

Begitu ada uang masuk, uang tersebut langsung dihabiskan untuk expense.

Kedua. Mentalitas Middle Class. Golongan kedua adalah orang bermental middle class atau kelas menengah. Mereka berpenghasilan tinggi dan terlihat kaya. Saya ulangi: terlihat kaya. Orang-orang kelas ini cenderung fokus untuk terlihat kaya. Bukan menjadi kaya yang sesungguhnya. Artinya, mereka tidak tahu, perbedaan antara kaya dan terlihat kaya. Sukses dengan terlihat sukses. Semua asset dan energy mereka curahkan untuk mempermak penampilan agar dipandang “wah” oleh orang lain. Dan disaat yang sama, mereka lupa membangun sukses yang sesungguhnya.

Coba perhatikan. Jika suatu saat Anda melihat teman SMA, setelah belasan tahun berpisah. Dia sedang ngopi di sebuah kafe mahal. Di dekat cangkir kopinya tergeletak smartphone terbaru, brand terkenal, dan kunci mobil mewah. Apa yang pertama kali Anda pikirkan? Kemungkinan besar Anda menduga bahwa dia sudah menjadi orang sukses. Apalagi jika Anda mengingatnya sebagai murid pandai di kelas, atau anak orang kaya. Semoga dugaan Anda benar. Jika ternyata tidak, maka teman anda itu ada digolongan middle class.

Yang menjadi fokus orang-orang di kelas menengah ini adalah life style. Yang mereka perjuangkan adalah gaya hidup. Bahkan, gaya hidupnya adalah cara hidupnya. Yang selalu membuatnya risau adalah penilaian orang lain. Apapun akan dilakukannya untu terlihat sukses di mata orang lain. Akibatnya, dia akan menghabiskan sebagian besar penghasilannya, bahkan berutang demi membiaya gaya hidupnya.

Ketika kemampuan mengelola uangnya tidak bisa jadi sandaran, maka sebanyak apapun uangnya, dia akan menuju kemiskinan. Masalahnya, mereka terlanjur yakin bahwa gaya hidup mahal adalah andalannya untuk tampil percaya diri.

Para pengusaha cenderung tidak terganggu dengan gaya hidupnya. Mereka peduli dengan uangnya, dan berusaha memanfaatkannya dengan bijak.

Bagaimana akhir kisah orang-orang middle class ini? Dengan penghasilan yang tak pernah cukup, sebanyak apapun digitnya, mereka tak punya anggaran untuk investasi atau membangun bisnis yang sehat. Semua habis demi kendaraan mewah, hobi mahal, gadget canggih, dan penampilan mentereng. Walalupun tahu bahwa mereka hanya mengulur waktu, tapi menghentikan gaya hidupnya bukan hal yang mudah. Cepat atau lambat, secara teknis orang-orang ini akan berakhir bangkrut. Sedih sekali.

Ketiga. Mentalitas Kaya. Orang dengan mentalitas kaya mengubah income menjadi asset. Dengan perhitungan yang cermat, asset itu dikelola dan berkembang, sehingga kembali menghasilkan income. Dari income itu, proyeksi utamanya adalah untuk menjadi asset lagi. Begitu seterusnya. Uang akan terus berkembang dari berbagai arah. Tak heran jika kemudian muncul istilah “yang kaya makin kaya’.

Orang kaya fokus pada INVESTASI.  Apakah ini berarti orang kaya tidak peduli gaya hidup? Gaya hidupnya adalah sedekah, ibadah. Keutamaan hidupnya untuk beribadah kepada Alloh. Banyak cerita orang bertambah sukses karena rajin sedekah, inilah yang sebenarnya bermental kaya. Jadi, siapapu orangnya, seberapapun penghasilannya, pantas bermental kaya.

Terkadang mereka memikirkan gaya hidup, tapi gaya hidupnya tidak mengganggu arus kasnya. Namun demikian, sejauh pengamatan saya, orang-orang kaya yang sesungguhnya lebih cenderung bersahaja. Mereka menghargai uangnya, dan tidak ingin menghamburkannya hanya demi kesenangan demi kesenangan sesaat.

Orang bermental kaya cerdas dalam berinvestasi. Mereka tidak selalu orang yang berpenghasilan besar atau keturunan orang kaya. Dengan tekun, sedikit apapun jumlahnya, mereka menginvestasikan waktu dan uangnya. Setiap penghasilan, selalu ada uang yang disisihkan untuk ditabung. Dan ketika ada peluang investasi, tabungannya digunakan.

Orang kaya sangat cermat membedakan antara asset (harta) dan liability (kewajiban). Sesuatu yang bisa menghasilkan uang adalah asset, dan sesuatu yang menghabiskan uang adalah liability. Sesederhana itu. Kendaraan tidak akan dianggat asset jika hanya bisa menghabiskan uang. Dia baru menyebutnya asset jika kendaraan itu menghasilkan kebaikan, termasuk uang disana.

Semua orang pastinya ingin kaya, namun hanya sedikit yang benar-benar berkomitmen untuk membangun kekayaan. Yang berkah tentunya.

Oleh karenanya, kaya tanpa ilmu adalah bencana. Karena ilmu adalah warisan Rasul saw dan generasi shalih sedangkan harta semata adalah warisan Qorun. Kaya yang mulia tentu memperhitungkan bahwa kekayaannya kelak dapat mengantarkannya kepada kemuliaan disisiNya. Tentu dengan perjuangan yang sungguh-sungguh.

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan”
(Al-Anfal 28)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(Al-Kahfi 46)

“Maka adapun manusia, apabila Tuhan Mengujinya lalu Memuliakannya dan Memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhan-ku telah Memuliakanku.” Namun apabila Tuhan Mengujinya lalu Membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhan-ku telah Menghinaku.”
(A-Fajr 15-16)

“Apakah mereka mengira bahwa Kami Memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera Memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(Al-Mukminun 55-56)

Semoga bermanfaat. www.sheba.id

No Comments

Post a Comment