Sheba | ADA RIBA DI ANTARA KITA ?
22728
post-template-default,single,single-post,postid-22728,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

ADA RIBA DI ANTARA KITA ?

ADA RIBA DI ANTARA KITA ?

Seseorang bercerita, begini mulanya.

Si A mendapat pinjaman modal Rp 1.000.000,- dipakailah oleh si A untuk memulai usaha.

Si B yang memberikan pinjaman mensyaratkan setoran sebesar Rp 100.000,- setiap bulan sebagai pengembalian modalnya.

Si B memberikan keridhoan kepada Si A untuk memberikan tanda terima kasih berupa keuntungan dari usahanya setiap bulan sebesar Rp 20.000,- Sehingga total yang disetorkan sebesar Rp 120.000,-

Pertanyaannya, apakah sistem seperti ini boleh dan halal?

Untuk menjawabnya memang perlu paham dalil. Jadi, tak boleh sekedar pakai logika. Misalnya pakai logika, “Si B telah berbaik hati meminjamkan dengan keringanan pengembalian.”

Atau logika, “Si B beruntung karena dipermudah sekaligus mendapat keuntungan yang besar.” atau logika lain, “Ini simple. Ngga rumit.”

Bukan logika seperti itu yang kita gunakan. Sekali lagi bukan.

Tapi, kita harus lebih jeli. Apakah ini bermasalah? Dimana yang bermasalah? Apakah disana ada riba?

Pertama, mari kita lihat akad-akadnya.

Akadnya adalah pinjaman (hutang). Maka, setiap hutang piutang berlaku kaedah khusus. Kaedah yang dimaksud adalah:

‎كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan (keuntungan), maka itu adalah riba.” (Lihat Al Majmu’ Al Fatawa, 29/533; Fathul Wahaab, 1/327; Fathul Mu’in, 3/65; Subulus Salam, 4/97)

Ibnu Qudamah memperjelas lagi,

‎وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ .

“Setiap piutang yang mensyaratkan adanya tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”

Nah, jadi walaupun ada keridhaan dari Si B memberikan tanda terima kasih, tapi ini nyatanya adalah bentuk dari manfaat yang dimaksud di akad hutang piutang itu.

Jelas. Dari kasus di atas kita bisa perhatikan kalau disana ada riba. Setoran Rp 100.000 sebagai cicilan pengembalian modal. Ditambah Rp 20.000,- sebagai bentuk dari tambahan manfaat / keuntungan. Maka, sudah jelas itu adalah r-i-b-a !

Mungkin ada yang berfikir begini, “Kan Si B diberi tambahan dalam pengembalian hutang tanpa paksaan dan toh sudah sama-sama ridho (alias suka sama suka). Lalu kenapa mesti dilarang?”

Ini bukan karena paksaan atau sama-sama ridho. Tapi, apakah ini benar praktiknya sesuai akad hutang piutang ataukah melanggar? Jelas. Kasus diatas melanggar syariah.

Kedua, solusinya bagaimana?

Jika memang pinjaman sebagai modal usaha dan mencari keuntungan, mengapa tidak sekalian kerjasama dengan akad syirkah?

Caranya?

Atur ulang. Buat akad baru. Dan mengubah akadnya dari pinjaman menjadi syirkah: hilangkan cicilan / setoran bulanannya, modal dikembalikan sepenuhnya jika sudah selesai masa syirkahnya, dan bagi hasilnya ditentukan besarnya berdasarkan % laba bersih. Bukan besar nominal berupa uang dari porsi modal.

Bagi hasil bisa dibagi per project atau tergantung kesepakatan dan realisasi usahanya. In syaa Allah tidak rumit. Hanya perlu pembiasaan. Setuju ? 🙂

Ditulis oleh: Prio Agung Wicaksono

#YukSyirkah #BisnisSyariah #MillenialMengaji

No Comments

Post a Comment