Sheba | BISMILLAH BERSYIRKAH
22735
post-template-default,single,single-post,postid-22735,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

BISMILLAH BERSYIRKAH

BISMILLAH BERSYIRKAH

tulisan ini terinspirasi hasil obrolan dengan seorang kawan yang ingin belajar bersyirkah.

sahabat muslim, pernah merasakan mau buka usaha modal sendiri belum cukup?

atau ingin memperbesar skala usaha dan ekspansi pasar?

atau, bingung ada uang nganggur tanpa tujuan yang jelas?

‘menganggurkan’ harta seperti ini sebenarnya dilarang dalam islam. harta yang baik itu yang dimanfaatkan. bukan disimpan tanpa tujuan.

kalau pernah merasakan ketiga poin itu dan atau salah satunya, mungkin ini bisa jadi solusinya: syirkah.

apa itu syirkah? cara mudah memahaminya begini.

pernah kerjasama dengan orang dengan modal badan alias tenaga atau keahlian? itu disebut bersyirkah loh.

misalnya, saling kerjasama buka jasa cuci gosok. satu orang jadi sales marketing. satu orang lagi yang menggarap cuci dan gosok. keduanya membagi rata hasilnya. ini sudah disebut bersyirkah. namanya syirkah abdan.

ada juga misalnya, seorang kakak menyerahkan mobilnya kepada adiknya untuk digunakan jasa taksi online. keduanya membagi hasil 50:50 dari hasil keuntungan bersih setelah dikurangi biaya operasional. ini juga disebut bersyirkah. namanya syirkah mudharabah. pihak pertama sebagai pemodal dalam bentuk mobil. pihak kedua dengan keahlian.

ada lagi yang menyerahkan modalnya sekaligus dia ikut serta dalam mengurus usahanya. misalkan saja seseorang buka warung kopi, dia keluarkan modal untuk beli bahan baku minumannya. satu orang lagi menyediakan tempat warung kopinya. keduanya sepakat saling bagi waktu untuk jaga warung. mungkin membagi keuntungannya juga bisa 50:50. tergantung kesepakatan. ini juga disebut sebagai syirkah mudharabah.

ada lagi satu pihak yang bisa memproduksi / menyediakan barang dagangan, sedangkan pihak lainnya fokus berjualan. keduanya juga bersyirkah.

ada banyak bentuk syirkah yang bisa jadi solusi dalam usaha. dan tentunya, in syaa Allah lebih berkah tanpa riba. asalkan mengerti dan paham bagaimana syirkah itu dijalankan. jangan asal-asalan.

prinsipnya yang perlu diingat adalah:

pertama, bagi hasil bukan berdasarkan modal, tapi keuntungan. ingat. kalau % bagi hasil berdasarkan modal, apa bedanya dengan bunga (riba)? maka, pastikan % bagi hasil ditentukan berdasarkan keuntungan bersihnya. jangkau waktunya tergantung selesai projectnya. belum tentu sebulan sekali seperti bunga riba.

kedua, jika usaha rugi, maka bagi rugi ditentukan berdasarkan syariah. pemilik modal menanggung kerugian atas modal, dan pemilik tenaga menanggung rugi atas lelah badan dan pikiran. jika kerugian karena bencana alam, dan semacamnya maka pemodal-lah yang menanggung kerugian keseluruhannya.

jika keduanya keluarkan modal, maka kerugian ditentukan besaran modal yang disetorkan.

ketiga, alangkah baiknya jika para syarikh paham bagaimana cara syirkah ini berjalan. jadi, kelak perjalanan bisnisnya tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

keempat, pastikan berakad secara tertulis. membiasakan ada hitam diatas putih. tentukan mana hak dan kewajibannya. agar lebih jelas, dan tidak menimbulkan salah paham dikemudian hari.

kelima, niatkan ‘saling membantu’. ada sisi ta’awun sesama muslim disana. tentu dengan akad yang profesional, berbasis keahlian (kafaah), dan juga amanah.

sebagai catatan: jika benar-benar buka bisnis dari 0, saya sarankan pakai modal sendiri dulu. modal dari pihak kedua tujuannya untuk memperbesar skala: produksinya, jangkauannya. jadi, mandiri dulu. sinergi kemudian.

bisnisnya halal dan jauhi riba lebih menetramkan. in syaa Allah, Allah permudah. selamat, bismillah bersyirkah. 🙂

Oleh: Prio Agung Wicaksono

No Comments

Post a Comment