Sheba | PERTANYAAN: DARI DUA PENDAPAT ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN MENGHARAMKAN MULTIAKAD, MANA YANG LEBIH KUAT?
22773
post-template-default,single,single-post,postid-22773,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

PERTANYAAN: DARI DUA PENDAPAT ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN MENGHARAMKAN MULTIAKAD, MANA YANG LEBIH KUAT?

PERTANYAAN: DARI DUA PENDAPAT ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN MENGHARAMKAN MULTIAKAD, MANA YANG LEBIH KUAT?

Oleh: Prio Agung (CEO Sheba.id)

Dear Sahabat Muslim,

Masih melanjutkan tulisan yang sebelumnya terkait dengan multiakad. Yang kemudian menyisakan pertanyaan, jika ada dua pendapat berbeda, maka sikap kita terhadap pendapat itu seperti apa? Pendapat mana yang diambil?

Ini pertanyaan penting untuk kita mendapat kemantaban dalam bermuamalah. Karena, jika kita mendapati ini belum menyatu dalam pemahaman, maka menjadikan aktivitas muamalah kita menjadi simpang siur.

Sebenarnya ini membutuhkan ilmu khusus, disebut Tarjih Hukum. Karena disiplin ini membutuhkan keahlian khusus, maka posisi saya hanya menyampaikan pendapat ulama, menuliskannya kembali.

Berikut penjelasannya singkatnya terkait pen-tarjihan-nya.

1. Telah terdapat dalil yang hadits yang menjelaskan dengan tegas melarang penggabungan dua akad atau lebih ke dalam satu akad.
2. Kaidah fikih yang dipakai pendapat yang membolehkan, yaitu al-ashlu fi al-muamalat al-ibahah tidak tepat. Pasalnya, ditinjau dari asal-usulnya, kaidah fikih tersebut sebenarnya cabang atau lagir dari kaidah fikih lainnya. “Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, selama tak ada dalil yang mengharamkannya.”
3. Kaidah fikih al-ashlu fi al-muamalat al-ibahah juga bertentangan dengan nash syar’i sehingga tidak boleh diamalkan. Nash yang dimaksud adalah hadits Nabi saw. “Hakim bin Hizam ra. berkata, “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw. sesungguhnya aku banyak melakukan jual-beli, apa yang halal bagi diriku dan yang haram bagi diriku.’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu menjual barang itu lagi hingga kamu menerima barang tersebut.” (HR Ahmad) Setelah saya konfirmasi, hadits ini berlaku secara khusus untuk segala jenis barang-barang yang bisa ditakar, dihitung, ditimbang. Nanti kita akan bahas ditulisan selanjutnya, in syaa Allah.
4. Pendapat yang menyatakan bahwa penggabungan akad (multiakad) hanya haram jika disertai unsur keharaman, tidak dapat diterima. Sebab, dalil yang melarang penggabungan akad bersifat mutlak. “Nabi saw. telah melarang dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad).” (HR Ahmad, shahih)

Berdasarkan uraian di atas, terdapat dua kesimpulan.

1. Multiakad merupakan masalah khilafiah, ada sebagian ulama yang membolehkan, ada pula jumhur (mayoritas) ulama mengharamkan.
2. Pendapat yang rajih (kuat) menurut kami adalah yang pendapat jumhur ulama yang mengharamkan multiakad.

Semoga kita bisa mengambil pendapat yang rajih karena memang kekuatan dalilnya.

Sekian. Wallahu a’lam.

Nantikan tulisan lanjutannya. In syaa Allah. Bagi sahabat yang ingin join di WAG Kajian Bisnis Syariah klik gabung.

Semoga menjadi tabungan amal shalih saya dan sahabat sebagai wasilahnya. Dan mohon do’anya, semoga saya bisa berbagi dengan istiqamah. Semoga BERKAH.

No Comments

Post a Comment