Sheba | SETIAP SEORANG SALES PERLU TAHU TENTANG INI
22767
post-template-default,single,single-post,postid-22767,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SETIAP SEORANG SALES PERLU TAHU TENTANG INI

SETIAP SEORANG SALES PERLU TAHU TENTANG INI

Oleh: Prio Agung (CEO Sheba)

Dear Sahabat Muslim,

Ditulisan saya sebelumnya kita telah membahas dua hal penting, yakni bagaimana kita mencermati setiap aktivitas perbuatan kita, yang ternyata terikat dengan hukum syara, baik berupa hukum taklifi atau sering disebut hukum yang lima [fardhu (wajib), mandub (sunnah), mubah, makruh dan haram). Juga terkait hukum wadh’i, yakni seruan keadaan ditetapkannya sesuatu sebagai sabab bagi adanya.

“Ah.. yang penting jualan dulu aja, repot-repot amat belajar ini itu?”

Kadang kala, pertimbangan singkat ini menyelinap dalam benak kita. Sales memang penting, laba memang kita cari. Namun, ingatlah bahwa Nabi SAW pernah berpesan begini,

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Perkataan Nabi SAW ini jelas peringatan yang sangat jelas, bagaimana kondisi yang pasti akan datang, bahwa zaman dimana manusia tak lagi peduli halal dan haram. Bukankah ini mengerikan?

Oleh karenanya, didalam aktivitas bisnis saat ini terdapat sekat pemisah, yakni antara bisnis dan dakwah syariah. Keduanya seperti ada jurang pemisah yang dalam. Inilah yang disebut sebagai memisahkan urusan hidup, dengan urusan agama yang lazim disebut dengan kehidupan yang sekuler.

Akibat kehidupan yang sekuler ini lahirlah kehidupan ekonomi yang carut marut, yang hanya mengejar materi, berorientasi hanya bagaimana memenuhi kebutuhan manusia dengan produk dan jasa. Dari aktivitas ekonomi yang dominan ini kemudian disebut sebagai Ekonomi Materialstik Kapitalistik.

Pengaruh ini menyebabkan perilaku individu muslim menjadi abai terhadap syariah. Tak hanya abai, bahkan hingga ‘ngakali’ syariah dengan tidak merujuk pada dalil, tapi mendasarkan pada dalih.

Dari uraian singkat ini, maka penting bagi seorang sales, pedagang, ceo, owner, investor muslim untuk selalu berpegang teguh pada ilmu agama. Sejatinya, bisnis bukan saja soal untung rugi, tapi karena surga dan neraka.

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan, “Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Dalam hal jual beli misalnya, bagaimana seorang sales mampu menentukan bagaimana syarat-syarat yang ditentukan agar jual beli tetap syar’ie.

Ada dua jenis syarat dalam jual beli. Pertama, syarat syar’ie dab kedua adalah syarat ja’li.

Syarat syar’ie adalah syarat yang ditetapkan syariah harus terpenuhi dalam akad, seperti syarat untuk dua pihak yang berakad (misal, akil, muamayyis), dan syarat untuk objek akad (misal, benda suci bukan najis).

Syarat ja’li adalah syarat yang dibuat sendiri oleh pihak yang berakad. Syarat ini hukumnya boleh dengan syarat tidak melanggar syariat.

Rasulullah SAW bersabda,

“Kaum muslimin bermuamalah sesuai syarat-syarat diantara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

Sekian.

Bagi sahabat kita lainnya yang ingin join di WAG Kajian Bisnis Syariah klik gabung.

In syaa Allah bermanfaat. Dan mohon do’anya semoga saya bisa berbagi dengan istiqamah. Semoga BERKAH.

No Comments

Post a Comment