Sheba | SETIAP YANG INGIN MENJADI PENGUSAHA MUSLIM HARUS TAHU SOAL INI
22758
post-template-default,single,single-post,postid-22758,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SETIAP YANG INGIN MENJADI PENGUSAHA MUSLIM HARUS TAHU SOAL INI

SETIAP YANG INGIN MENJADI PENGUSAHA MUSLIM HARUS TAHU SOAL INI

Oleh: Prio Agung (CEO Sheba)

Dear Sahabat Muslim,

Saat memutuskan untuk membuka usaha, barangkali yang dipikirkan adalah: produk apa yang akan dijual, layanan apa yang akan diberikan, bagaimana cara menjual dan langsung laris, atau bisa saja Anda berfikir bagaimana caranya mendapatkan modal, usaha apa yang mendatangkan untung yang banyak.

Cara berfikir seperti itu memang sudah lazim. Dilain sisi kita hidup di lingkungan masyarakat sekuler kapitalistik, secara otomatis cara berfikir mengikut serta dan tak jauh berbeda dengan bagaimana cara berfikir kapitalis.

Ciri berfikir kapitalistik: materialistis dan menganggap semua adalah tentang bagaimana memenuhi kebutuhan manusia dengan barang dan jasa dengan faktor-faktor produksi yang kita miliki jelas-jelas tidak mencerminkan sebagai pengusaha muslim.

Bukan soal materi semata. Bukan produk dan jasa saja. Lebih dari itu.

Tidak heran, cara berfikir kita pun akhirnya sama. Dari sinilah justru praktik bisnis non Islami sering kali terjadi. Padahal kita muslim, dan menginginkan keberkahan.

Akibat tidak difikirkannya landasan fundamental bisnis sejak awal, maka memungkinkan terjadinya salah penanganan. Entah terkait hukum taklifi, yakni hukum yang menetapkan status perbuatan manusia. Diantaranya hukum yang lima: fardhu (wajib), mandub (sunnah), haram, makruh, dan mubah.

Selain seruan hukum taklifi, seruanNya juga berkaitan dengan hukum wadh’i, yakni seruan keadaan ditetapkannya sesuatu sebagai sabab bagi adanya. Contohnya: dalam shalat, tergelincirnya matahari merupakan sebab adanya shalat dzuhur, bersuci syarat dari sholat dan sebagainya.

Makin maju teknologi dan berkembangnya model bisnis telah mengubah behavior (perilaku) dan cara membeli. Sehingga bisa saja mengubah akad, cara hingga transaksi-transaksi muamalah yang harus ditinjau dari sisi fikihnya. Bukan saja soal apakah terdapat riba, tapi bagaimana aplikasi akad-akadnya.

Prinsip memahami secara fundamental inilah yang mestinya ada pada setiap muslim ada selalu berprinsip pada syariah sebagai pedoman.

Semua hal terkait orang, barang dan akad yang tidak terpisahkan. Inilah yang kemudian disebut sebagai Rukun Akad Bisnis Syariah.

Rukun merupakan bagian dari sesuatu dan tidak dapat dipisahkan darinya. Sesuatu menjadi tidak utuh ketika tanpa keberadaannya. Dengan kata lain, akad dianggap tidak ada (bathil) jika meninggalkan salah satu rukun.

Rukun akad ada 3:
1. Dua pihak yang berakad. (Al-‘Aqidan) yakni dua pihak yang melakukan transaksi, misalkan penjual dan pembeli.
2. Objek akad. (Al-Ma’qud ‘alayh), yakni konsekuensi dari akad, misalnya barang dan harganya dalam jual beli.
3. Redaksi akad. (Shighat al-‘aqd), berupa ucapan atau tindakan yang menyatakan ijab dan qabul, misalkan ‘saya jual’ dan ‘saya beli’.

Sekian.

Jika dirasa bermanfaat dan bagi sahabat yang ingin mendapatkan 1 hari 1 tulisan bisnis syariah dari KBS silakan sebarkan tulisan ini dan join di WAG Kajian Bisnis Syariah klik gabung.

FREE. Semoga BERKAH.

No Comments

Post a Comment