Sheba | SYIRKAH AL-AMLAK
22780
post-template-default,single,single-post,postid-22780,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SYIRKAH AL-AMLAK

SYIRKAH AL-AMLAK

Oleh: Prio Agung (CEO Sheba.id)

Dear Sahabat Muslim,

Syirkah al-Amlak adalah kepemilikan bersama atas suatu benda, semisal kepemilikan bersama atas harta yang diwarisi oleh dua orang, atau harta yang dibeli dua orang, atau harta yang dihibahkan orang lain kepada dua orang. (an-Nabhani, 2004: 149-150)

Ilustrasinya begini: A dan B adalah pemilik mobil. Kemudian keduanya membuat usaha rental mobil “AB”

Hukum Syirkah al-Amlak

Hukumnya ja’iz (boleh) berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Diantaranya:

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak laki-laki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan..” (QS. an-Nisa: 11)

Pada ayat diatas, Allah ta’ala telah menjadikan hart waris sebagai harta yang dimiliki bersama oleh anak-anak yang ditinggalkan.

Juga dalil,

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Pada ayat ini Allah ta’ala telah menjadikan delapan asnaf (kelompok) sebagai orang-orang yang memiliki bersama harta zakat.

Adalun hadits sebagai berikut,

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa memiliki serikat dalam suatu rumah atau sebidang kebun, maka dia tidak berhak menjualnya sebelum mendapat izin dari serikatnya. Jika mau, ia bisa membelinya.” (HR Muslim)

Hadits ini memberi faedah tentang adanya kepemilikan bersama atas suatu benda, dimana satu dengan yang lainnya terikat dalam kepemilikan atas benda tersebut.

Rukun Syirkah

1. Dua pihak yang berakad (‘aqidani) syaratnya memiliki kecakapan (ahliyah) dalam melakukan tasharruf (pengelolaan harta)

2. Obyek akad (ma’qud ‘alayhi), yang mencakup pekerjaan (amal) dan modal (maal)

3. Akad (ijab qabul) disebut juga sighat

Ketentuan Syirkah Al-Amlak

Dalam syirkah ini, disyaratkan objek akadnya yaitu benda atau barang (‘urudh) telah dimiliki bersama saat akad, sehingga dapat diakadkan untuk dikelola secara bersama-sama untuk suatu usaha.

Dalam syirkah inj, tidak disyaratkan jumlah bagian kepemilikan dari masing-masing pihak terhadap barang tersebut harus sama.

Terkait upah (ujroh), masing-masing boleh diberikan upah (ujroh) atas pekerjaannya. Sebab objek akad syirkah ini hanya terjadi benda yang dimiliki bersama dan tidak pada badan (‘amal) atau kerja dari para pihak yang bersyirkah.

Jadi, satu syarik (mitra) boleh menjadi sopir dalam usaha rental AB tersebut denga upah jika syirkah tersebut terjadi atas mobil.

Upah sopir bukan dari laba, sebab pekerja (ajir) mengambil upah yang disepakati karena ia menunaikan pekerjaannya.

Jika upah itu dikaitkan dengan laba, kadangkala tidak ada laba, dan karenanya tidak ada upah, dan ini tidak boleh secara syar’ie sebab ajir itu berhak mendapatkan ujroh jika ia telah menunaikan pekerjaannya, baik syirkah itu untung atau rugi.

Rasul saw bersabda, _“Berikan kepada seorang ajir upahnya sebelum kering keringatnya.”_ (HR Ibn Majah)

Sehingga dalam syirkah ini, jika ada pihak bekerja kepada syirkahnya, maka ia boleh memperoleh upah dan bagi hasilnya. Dan keduanya tidak boleh dikaitkan. Misalkan saja keduanya membaginya 50:50 dan boleh tidak sama.

Ali ra. berkata, “Laba itu bergantung pada apa yang mereka sepakati bersama.” (HR Abdurrazak)

Sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha berdasarkan porsi kepemilikan atas benda. Misalkan porsi kepemilikan 50:50, maka masing-masin menanggung kerugian 50:50.

Dalilnya,

“Kerugian didasarkan atas besarnya modal.” (HR Abdurrazak)

Sekian. Wallahu a’lam.

Yuk berbagi. Semoga menjadi tabungan amal shalih kita disisi Alloh ta’ala. Untuk join klik gabung.

No Comments

Post a Comment