Sheba | SYIRKAH INAN
22782
post-template-default,single,single-post,postid-22782,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SYIRKAH INAN

SYIRKAH INAN

Oleh: Prio Agung (CEO Sheba.id)

Dear Sahabat Muslim,

Bismillah. Baiklah kita akan membahas bentuk syirkah berikutnya. Ini salah satu syirkah yang memungkinkan pemilik modal (harta) sekaligus menjadi pengelola.

Berbeda dengan syirkah al-amlak, Syirkah Inan adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberikan kontribusi kerja (‘amal) dan modal harta (maal). (an-Nabhani, 2004: 150)

Ilustrasinya seperti ini:

A dan B adalah sarjana teknik industri. A dan B sepakat menjalankan bisnis dengan membangun industri sepatu dan menjualbelikannya. Masing-masing memberikan kontribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya mencurahkan pikiran dan tenaga (sama-sama bekerja) dalam menjalankan industri tersebut.

Hukum Syirkan Inan

Hukumnya ja’iz (boleh) berdasarkan as-Sunnah dan Ijmak Sahabat. Sejak zaman Rasulullah saw sudah banyak orang mempraktikkannya.

Rukun Syirkah Inan

Pertama, dua pihak yang berakad. Kedua, ijab dan qabul. Ketiga, objek akad, yaitu amal (pekerjaan), modal, dan keuntungan.

Ketentuan Syirkah Inan

1. Disyaratkan modal harus berbentuk uang (nuqud), sedangkan barang (‘urudh), misalnya rumah atau mobil tidak boleh dijadikan modal syirkah, kecuali barang tersebut dihitung nilainya (qimah al-‘urudh) pada saat akad.

2. Tidak disyaratkan modal dari para pihak yang berakad harus sama. Hanya saja kekayaan (modal) harus dinilai dengan standar yang sama sehingga modal keduanya bisa melebut jadi satu.

3. Kepemilikan atas modal yang disyirkahkan harus merupakan milik masing-masing pihak yang bersyirkah. Tidak boleh menggunakan modal yang bukan miliknya.

4. Terkait objek akad yang menjadi pekerjaannya, maka para pihak wajib terjun langsung secara bersama-sama. Tidak boleh mewakilkan kepada pihak lain untuk menggantikan posisinya, sebab syirkah ini terjadi pada badan (diri) para pihak.

5. Namun, pada pihak boleh menggaji siapa saja (orang lain) yang mereka kehendaki dan memanfaatkannya sebagai pegawai perusahaan perseroan, bukan sebagai pegawai salah seorang dari para pihak.

6. Keuntungan dari usaha didasarkan kesepakatan. Besarnya boleh 50:50, boleh juga tidak. Dalilnya, _“Laba itu bergantung pada apa yang mereka sepakati bersama.”_ (HR Abdurrazak)

7. Kerugian ditanggung oleh masing-masing pihak berdasarkan porsi modal. Misalkan, jika masing-masing modalnya adalah 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%. Para pihak tidak boleh mensyaratkan kerugian berdasarkan kesepakatan, tapi wajib sesuai dengan jumlah modal yang mereka jadikan modal dalam syirkah ini. Dalilnya, “Kerugian didasarkan atas besarnya modal.” (HR Abdurrazak)

Bagi sahabat yang memiliki cukup modal, dan ingin juga terjun langsung dalam mengelola bisnis, skema syirkah ini cocok untuk sahabat praktikkan.

Islam telah memiliki sejumlah solusi yang praktis dan ini sekaligus sebagai bukti bahwa Islam bukan sekedar konsep pemikiran (fikrah), tetapi dalam diaplikasikan dengan metode yang khas (thariqah).

Menarik sekali bukan solusi Islam? Tidak perlu khawatir dengan harus terlibat dalam lembaga riba yang dosanya nge-RIBA-nget! 🙂

Selamat bersyirkah. (baca: berkolaborasi)

Sekian. Wallahu a’lam.

Yuk berbagi. Semoga menjadi tabungan amal shalih kita disisi Alloh ta’ala. Untuk join klik gabung.

No Comments

Post a Comment