Sheba | SYIRKAH MUDHARABAH BAGIAN 1
22784
post-template-default,single,single-post,postid-22784,single-format-standard,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.7,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SYIRKAH MUDHARABAH BAGIAN 1

SYIRKAH MUDHARABAH BAGIAN 1

Oleh: Prio Agung (CEO Sheba.id)

Dear Sahabat Muslim,

Jumat, 01 Februari 2019

Jika kita berfikir bahwa uang itu bisa bekerja untuk kita, bisa benar dan keliru. Tergantung dari sisi mana kita memberikan pandangan.

Uang bisa saja bekerja untuk pemilik modal untuk semakin menambah kekayaannya. Dengan modal, semua bisa ia kuasai. Dari sisi inilah watak asli para kapitalis menguasai lini kehidupan.

Segala cara pun bisa saja dilakukan, agar terus membesarkan modalnya. Makin besar modal, makin besar pula kekuasaannya.

Berbeda dengan kaum muslimin, modal bukan semata hanya bagaimana menambah kekayaan, juga cara bagaimana agar kekayaan itu tak hanya beredar dikalangan orang kaya saja.

Dalam Islam, seseorang yang tak memiliki modal, dapat memiliki posisi sebagai pemiliki usaha. Ini sangat jauh dengan kapitalis. Islam memungkinkan siapapun yang tak memiliki modal, tapi cakap dalam mengelola modal bisa saja menjadi pemilik bisnis. Semua itu bisa dengan syirkah.

Namun, kaum muslimin kini akhirnya kebingungan, bagaimana praktik permodalan yang syar’ie? Apakah semua investasi itu haram? Ataukah Islam memiliki solusi? Bagaimana skema investasi yang benar dalam Islam.

Kali ini kita akan membahas apa itu Syirkah Mudharabah. Sebuah syirkah yang menjadi primadona dalam bisnis. Mengapa? Karena paling banyak dipraktikkan? Mungkin saja.

Pengertian Mudharabah

Syirkah Mudharabah adalah syirkah antara dua pihak denga ketentuan satu pihak memberikan kontribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan kontribusi modal harta (maal) (an-Nabhani, 2004: 154)

Istilah mudharabah dipakai ulama irak, sedangkan ulama hijaz menyebutnya qiradh.

Ilustrasinya begini:

A sebagai pemodal (shahibul maal) memberikan modalnya sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal (mudharib) dalam usaha perdagangan umum, misalkan usaha warung makan.

Ada 2 Bentuk Variasi Syirkah Mudharabah

Pertama, dua pihak (misal A dan B) sama-sama memberikan kontribusi modal, sementara pihak ketiga (misalkan C) memberikan kontribusi kerja saja.

Kedua, pihak pertama (misal A) memberikan kontribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalkan B) hanya memberikan kontribusi modal, tanpa kontribusi kerja.

Kedua bentuk variasi tersebut di atas juga tergolong ke dalam syirkah mudharabah.

Hukum Syirkah Mudharabah

Hukumnya ja’iz (boleh) berdasarkan dalil as-Sunnah (taqrir Nabi saw) dan ijma sahabat.

Al-Kasani dalam Badai’ ash-Shanai’ menyatakan biasa melakukan akad mudharabah dan Nabi saw. tidak mengingkari mereka, sehingga hal itu merupakan persetujuan (taqrir) dari Nabi atas kebolehan mudharabah.

Ibn al-Mundzir di dalam al-Ijma’ menyatakan, “Para ahli telah berijmak atas kebolehan mudharabah secara keseluruhan.”

Imam asy-Syaukani menyatakan, “Atsar-atsar ini menunjukkan bahwa mudharabah dilakukan oleh para Sahabat tanpa ada seorang pun yang mengingkari sehingga hal itu menjadi ijmak mereka bahwa mudharabah adalah boleh.”

Rukun Mudharabah

Pertama, dua pihak yang berakad. Kedua, ijab dan qabul. Ketiga, objek akad, yaitu amal (pekerjaan), modal, dan keuntungan.

Ketentuan Mudharabah

1. Akad sah jika dilakukan oleh mereka yang secara syar’ie sah melakukan tasharruf, yaitu orang yang berakal, baligh dan tidak sedang di-hijr (dilarang oleh hakim untuk melakukan tasharruf, termasuk melakukan transaksi finansial).

2. Dua pihak yang berakad yang dimaksud bukan jumlahnya harus dua orang, melainkan dua pihak itu adalah satu pihak yang menjadi mujib (menyampaikan ijab/ajakan) dan pihak yang menyampaikan qabul.

3. Ijab dan qabul harus dilakukan terpaut antara ijab dan qabul atai harus dalam satu majelis. Artinya harus jelas, siapa yang menjadi pemodal dan siapa yang menjadi pengelola.

4. Terkait objek akad harus jelas aktivitas bisnis yang diakadkan dan harus dipahami dengan jelas batasan aktivitas yang termasuk dalam cakupan bisnis dalam syirkah itu, atau yang menjadi cakupan aktivitas mudharib (pengelola).

Bersambung…

Sekian. Wallahu a’lam.

Yuk berbagi. Semoga menjadi tabungan amal shalih kita disisi Alloh ta’ala. Untuk JOIN klik gabung 

No Comments

Post a Comment